Jumat, 09 Maret 2012

Filosofi Bambu Dalam Falsafah Jawa 


            Apakah filosofi bambu dalam falsafah Jawa? Orang Jawa selalu dekat dengan bambu karena bambu sudah menjadi bagian dari hidup orang Jawa. Bambu memberikan banyak manfaat. Karena kedekatannya dengan bambu, oran Jawa mampu mengambil refleksi dari bambu untuk dijadikan nilai-nilai luhur yang dihidupi. Filosofi bambu dijadikan sebuah simbol untuk mengajarkan nilai-nilai moral yang baik. Dalam falsafah Jawa, filosofi bambu disesuaikan dengan unsur sentral kebudayaan Jawa yaitu rila (ikhlas), nrima (bersyukur), dan sabar.
Rila atau eklas berarti kesediaan menyerahkan segala milik, kemampuan, dan hasil karya kepada Tuhan. Nrima berarti merasa puas dengan nasib dan kewajiban yang telah ada, tidak memberontak tetapi mengucapkan terima kasih. Sabar menunjukkan ketiadaan hasrat, ketiadaan ketaksabaran, ketiadaan nafsu yang bergolak.

            Filosofi bambu ini diangkat dalam sebuah lagu hip-hop yang berjudul ngelmu pring yang diciptakan oleh G.P Sindhunata, SJ. Lagu ini ditenarkan oleh kelompok musik Jogja Hip-Hop Foundation. Dalam lagu ini banyak sekali nilai-nilai moral yang diajarkan melalui simbol bambu. Karena dikemas menggunakan lagu hip-hop yang sesuai dengan selera anak muda, maka lagu ini dapat menjadi pembelajaran nilai-nilai moral bagi kaum muda yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Pring deling, tegese kendel lan eling,
kendel marga eling, timbang nggrundel nganti suwing
Pring kuwi suket, dhuwur tur jejeg
rejeki seret, rasah dha buneg
Pring ori, urip iku mati
kabeh sing urip mesti bakale mati
Pring apus, urip iku lampus
dadi wong urip aja seneng apus-apus
Pring petung, urip iku suwung
sanajan suwung nanging aja padha bingung
Pring wuluh, urip iku tuwuh
aja mung embuh, ethok-ethok ora weruh
Pring cendani, urip iku wani
wani ngadepi, aja mlayu marga wedi
Pring kuning, urip iku eling
wajib padha eling, eling marga Sing Peparing

Pring deling, artinya berani dan ingat
berani karena tahu daripada menggerutu sampai bibirnya sumbing
Pring itu rumput, tinggi dan tegak
rejeki sedikit tapi tidak usah bingung
Pring ori, hidup itu mati
semua yang hidup pasti akan mati
Pring apus, hidup itu mati
jadi orang hidup jangan suka menipu
Pring petung, hidup itu hampa
walaupun hidup itu hampa tetapi jangan bingung
Pring wuluh, hidup itu tumbuh
jangan cuek, pura-pura tidak tahu
Pring cendani, hidup itu berani
berani menghadipi jangan lari karena takut
Pring kuning, hidup itu ingat
harus ingat, ingat yang memberi

            Pring deling tegese kendel lan eling, kendel marga eling timbang nggrundel nganti suwing.

            Hidup itu berani dan ingat. Berani disini berarti berani membela yang benar karena ingat bahwa hal itu memang benar. Kebanyakan dari anak muda sekarang melakukan tindakan yang jelek hanya karena sebuah gengsi. Mereka hanya sedang ikut-ikut dengan trend yang ada. Ketika blackberry sedang menjadi trend di masyarakat maka banyak yang membelinya. Jika tidak membelinya maka dikatakan akan ketinggalan zaman padahal handphone fungsi utamanya adalah untuk berkomunikasi dan untuk membantu pekerjaan tetapi mereka hanya berlomba untuk mencari prestise.
            Di tengah trend diatas, itu masih ada anak Indonesia yang berani melakukan hal berbeda. Mereka tidak ikut arus perkembangan zaman yang membawa dampak negatif. Banyak dari mereka menggunakan waktu sebaik mungkin untuk menimba ilmu daripada harus mencari sebuah gengsi. Uang yang mereka miliki mereka gunakan untuk membeli buku agar menambah wawasan atau juga mereka gunakan untuk membantu mereka yang berkekurangan dengan bakti sosial daripada digunakan untuk membeli yang tidak berguna.
            Jadi mengapa kita harus ikut membuang-buang uang dan waktu hanya untuk mengejar sebuah gengsi? Lebih baik kita gunakan uang dan waktu kita untuk mempersiapkan masa depan kita. Gengsi hanya bersifat sementara. Jika kita ingin mencari sebuah pengakuan maka kita tunjukkan dengan bakat dan kemampuan kita untuk membuat sesuatu yang berguna.

            Pring kuwi suket, dhuwur tur jejeg, rejeki seret, rasah dha buneg.

            Bambu hanya sebuah rumput tetapi bisa berdiri tegak. Perumpamaan ini ingin mengajarkan bahwa kita hendaknya memiliki mental yang kuat ketika menghadapi cobaan. Kita harus tangguh dan tidak mudah menyerah sebelum menyelesaikannya. Seperti sebuah slogan pada saat masa perjuangan yang menunjukkan tekad untuk berjuang yaitu merdeka atau mati.
            Bermental tangguh itu harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Saat mempersiapkan ulangan, kita harus belajar dengan baik agar kita dapat mengerjakan ulangan dengan baik tanpa mencontek. Saat kita diberi kepercayaan sebagai pengurus OSIS, kita menjadi pelayan yang baik bagi teman-teman yang lain walaupun banyak tugas yang harus di selesaikan. Dewasa ini banyak pelajar Indonesia yang bekerja untuk mencukupi biaya sekolah sendiri. Itulah semangat yang hendaknya kita tanamkan pada diri kita masing-masing karena kita adalah masa depan Indonesia yang harus membangun Indonesia menuju arah yang lebih baik.
Pring ori, urip iku mati, kabeh sing urip mesti bakale mati.
Segalanya yang hidup pasti akan untuk mati. Hidup itu hanya sekali maka dari itu isilah dengan hal-hal yang bermanfaat. Tidak ada artinya menghabiskan waktu dengan bersenang-senang terus. Lebih baik melakukan tindakan yang berguna bagi diri sendiri dan sesama.
Saat terjadi bencana alam letusan gunung Merapi banyak sukarelawan dari kalangan anak-anak SMA yang turun membantu korban bencana. Seperti contohnya posko pengungsian di SMA Van Lith Muntilan, banyak sekali siswa-siswi SMA yang menjadi sukarelawan mulai dari SMA Seminari Mertoyudan, SMA Van Lith, SMA De Britto, dll yang membantu korban bencana alam. Mereka mencurahkan waktu dan tenaga mereka untuk membantu orang-orang yang berkesusahan akibat bencana Merapi. Mengapa mereka mau bersusah-susah demi korban bencana Merapi? Mereka bisa saja hanya diam dirumah dan tidak ikut menolong. Namun nyatanya mereka memilih untuk tetap menolong korban bencana alam.
Itu hanyalah sedikit gambaran dari angkatan muda Indonesia yang memiliki kehendak baik. Sebenarnya kita bisa melakukannya jika kita hidup dalam solidaritas tanpa mementingkan diri sendiri. Jika kita hidup saling bahu-membahu maka kita bisa membangun Indonesia bersama-sama sebagai armada muda Indonesia.

           Pring apus, urip iku lampus, dadi wong urip aja seneng apus-apus.

            Hidup yang damai adalah hidup dalam kejujuran. Kejujuran adalah harta yang paling berharga dalam hidup ini. Banyak orang sukses karena mereka jujur. Tetapi saat ini menghidupi nilai kejujuran di tengah kebobrokan Indonesia rasanya menjadi hal berat.
            Pengalaman saya menjadi seorang pelajar saat ulangan pasti saya mencontek. Saat SMP saya sering sekali mencontek. Bagi saya menghidupi kejujuran sebagai pelajar itu berat sekali. Tetapi saya sadar apa gunanya mencontek jika itu tidak mengembangkan diri saya. Saya mendapat nilai baik tetapi tidak berkembang. Akhirnya saat SMA saya menghidupi nilai kejujuran itu. Sudah 3 tahun saya tidak mencontek dan nilai-nilai saya tetap baik walaupun kadang mendapat nilai jelek juga tetapi saya tetap senang karena itu hasil jerih payah saya sendiri.
            Coba bayangkan jika setiap generasi muda bisa hidup dalam kejujuran pasti Indonesia yang bobrok akan berubah. Mungkin koruptor-koruptor penghisap uang rakyat tidak akan lagi di Indonesia karena semua bertindak dengan jujur. Mari kita wujudkan armada Indonesia yang jujur.           

            Pring petung, urip iku suwung, sanajan suwung nanging aja padha bingung.

            Dalam perjalanan hidup, manusia kadang menemui kehampaan. Kadang kita bingung ketika hidup rasanya hampa. Ingin melakukan sesuatu tetapi kok tidak ada tastenya. Karena merasa sepi maka banyak dari kita yang mencari pelarian agar merasa tidak sendirian dengan pergi ke dugem, menyibukkan diri dengan dunia maya, dll. Ketika merasa kesepian maka kita akan menyenangkan diri kita sendiri agar kita bisa menghilangkan rasa sepi.
Saat-saat kita mengalami kesepian sebenarnya adalah waktu kita untuk berhenti dan melihat kebelakang, merefleksikan perjalanan hidup kita. Ketika merasa sepi janganlah bingung akan kehidupan kita.kita hendaknya berefleksi dan melihat kembali apa yang sudah kita lakukan dalam hidup kita. Setelah kita menyadarinya maka kita menyusun rencana apa yang akan kita lakukan untuk besok. Biarkanlah kamu melewati kesepian itu dan ingatlah bahwa kamu masih memiliki Tuhan yang selalu menyertai kamu. Jadi jangan putus asa dan bingung ketika kamu merasa dunia ini hampa.

            Pring wuluh, urip iku tuwuh, aja mung embuh, ethok-ethok ora weruh.

            Kita hidup sebagai mahluk sosial yang saling melengkapi. Dewasa ini banyak dari kita yang hidup sebagai mahluk individualis. Kita menganggap bahwa kita hanya hidup sendiri dan bisa hidup tanpa bantuan orang lain.
            Di bulan Ramadhan sering kita lihat para pelajar SMA yang berbagi nasi bungkus pada para pengemis di jalanan untuk berbuka puasa. Atau para pelajar yang mengadakan konser amal yang hasilnya nanti diserahkan ke panti asuhan. Mereka peduli kepada sesama mereka yang berkesusahan. Jika kita hidup dalam kepeduliaan maka tidak akan orang yang hidup dalam kesusahan.
Kita diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi. Kita diciptakan Tuhan dengan kelemahan dan tidak sempurna. Ketika ada yang berkesusahan maka sudah selayaknya kita membantu yang berkesusahan. Kita hendaknya peduli dengan sesama kita jangan bersikap acuh tak acuh pada sesama.

            Pring cendani, urip iku wani, wani ngadepi, aja mlayu marga wedi.

            Berani berbuat, berani bertanggungjawab itulah sifat seorang ksatria. Hidup jika hanya lari dari masalah sama halnya dengan seorang pengecut. Ketika kita berani melakukan sesuatu, maka kita juga harus berani menghadapi semua resiko atas pilihan kita.
Dewasa ini banyak sekali anak muda yang hanya berani berbuat sesuatu tetapi tidak berani bertanggungjawab. Misalnya banyak sekali problematika tentang remaja yang hamil dan yang menghamili tidak mau bertanggungjawab. Itulah mentalitas pengecut yang tidak berani bertanggung jawab atas segala tindakannya. Namun tidak semua orang seperti itu. Masih banyak orang yang berani bertanggungjawab atas perbuatannya.
Berani berbuat, berani bertanggungjawab. Jangan hanya lari karena takut untuk bertanggungjawab. Bagaimana nasib Indonesia jika banyak orang yang tidak bertanggungjawab?  Apakah selamanya negara kita akan penuh kebobrokan karena banyak oknum yang tidak berani bertanggungjawab?

            Pring kuning, urip iku eling, wajib padha eling, eling marga Sing Peparing.

            Kadang kita diberi tetapi kita lupa untuk bersyukur atas apa yang telah kita terima. Tuhan itu sudah memberikan kepada kita banyak sekali, entah itu sebagai orang miskin atau kaya. Yang jelas Tuhan sudah memberikan kita hidup maka dari itu harus disyukuri.
            Tahukah kalian sekolah Mangunan di Kalasan, Yogyakarta dan sekolah informal yang didirikan Romo Mangun di bantaran sungai Code, Yogyakarta? Sekolah itu didirikan untuk membantu anak-anak bantaran Code yang tidak bisa bersekolah. Kita sudah bisa mengenyam ilmu hingga sekarang karena kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk belajar.
            Di daerah Ethiopia masih banyak saudara-saudara kita yang kelaparan. Sementara kita sering tidak bersyukur atas makanan yang bisa kita makan. Malahan kita ingin makan yang enak-enak terus tetapi pada akhirnya makanan yang tidak dimakan, dibuang begitu saja. Kita sudah diberi rejeki oleh Tuhan, maka kita hendaknya bersyukur.
            Tuhan itu Maha Pemberi. Tuhan itu murah hati. Tuhan telah memberikan segalanya kepada kita: kekayaan alam, pendidikan yang bermutu, dan fasilitas yang lengkap sudah diberikan kepada kita. Maka dari itu, kita harus bersyukur atas apa yang diberikan oleh Tuhan. Jika kita memiliki rejeki berlebih, hendaknya kita berbagi kepada yang berkekurangan. Mari kita bangun generasi muda Indonesia yang penuh syukur.

Daftar pustaka:
  • Syair lagu Ngelmu Pring oleh  G.P Sindhunata, SJ
  • Endraswara, Suwardi, 2003, Falsafah Hidup Jawa, Yogyakarta, Cakrawala
  • Suseno, SJ, Franz Magnis, 1984, Etika Jawa, Jakarta, Gramedia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar